Home / Cerita Sex Tante / Cerita Sex Kentu Tante Niar Yang Kesepian

Cerita Sex Kentu Tante Niar Yang Kesepian

Cerita Ngentot dengan tante Niar ini terjadi pada setahun yang lalu, waktu saya masih kelas 3 SMA keluarga saya tinggal di rumah yang di kasih oleh pemerintah, dari situ saya mempunyai tetangga dia sudah seperti keluarga sendiri sering sapa dan menjadikan kami akrab namanya tante Niar dan suaminya om Toni mereka sudah mempunyai buah hati yang masih berumur 5 dan 3 tahun.

Dari sering bermain ke rumahku tante niar sering bercerita kalau suaminya om toni akan pergi ke jepang karena tugas kantor selama setengah tahun, jadi tante Niar akan sendirian di rumah di temani oleh kedua anak dan 1 orang assisten rumah tangga.

Situasi tersebut membikin saya berhasrat untuk selalu bertandang ke rumahnya dengan alasan ingin bermain dengan kedua anaknya. Alasan tersebut cukup kuat sebab orang tua saya dan Tante Niar tak pernah curiga sama sekali. Seringkali saya juga memergoki Tante Niar sedang berganti baju di kamar dengan tak menutup pintunya, atau mandi dengan tak menutup pintunya.

Sampai pada suatu saat, dikala saya sedang bertandang ke rumahnya dan cuma Tante Niar yang ada di rumah. Kedua anaknya dan pembantunya di-hijrah-kan ke daerah KD, sebelah timur kota BT sebab Tante Niar sering berpergian. Dan kebetulan juga orang tua saya dikala itu sedang ditugaskan ke luar daerah. Dengan ikutnya ibu dan kakak saya, yang berarti saya juga cuma tinggal sendiri di rumah.

Sekedar gambaran, Tante Niar itu memiliki tinggi badan sekitar 165 cm, memiliki pinggul yang besar, buah pantat yang bulat, pinggang yang ramping, dan perut yang agak rata (ini dikarenakan senam aerobic, fitness, dan renang yang diikutinya secara berkala), dengan didukung oleh buah dada yang besar dan bulat (belakangan saya baru tahu bahwa Tante Niar memakai Bra ukuran 36B untuk menutupinya). Dengan wajah yang seksi menantang dan warna kulit yang putih bersih, wajarlah jika Tante Niar menjadi impian banyak lelaki baik-baik maupun lelaki hidung belang.

Sampai pada suatu sore, dikala saya mendengar ada bunyi langkah kaki di luar, kemudian saya intip dari jendela dan ternyata Tante Niar baru pulang. Tak lama kemudian saya ingin ke kamar mandi (kamar mandinya terletak di luar masing-masing rumah dan ada beberapa tempat yang berjejer).

Dikala saya keluar dari kamar mandi, saya berpapasan dengannya. ia memakai kimono tipis warna biru muda dengan handuk di pundak dan rambut yang diikat agak ke atas sesampai leher jenjangnya terlihat seksi sekali. Sedangkan saya cuma memakai celana pendek tanpa kaos (memang jika di rumah, saya jarang memakai kaos/baju).

“Malem Tante”, saya sapa ia agar terlihat agak sopan.

“Malem Mas Rois.. kok belum tidur..?” balasnya.

Dan tanpa saya sadari tiba-tiba ia mencekal tangan saya.

“Mas Rois..” katanya tiba-tiba dan terlihat agak sedikit ragu-ragu.

“Ya Tante..?” Jawab saya.

“Eee.. nggak jadi deh..” Jawabnya ragu-ragu.

“Ada yang dapat saya bantu, Tante..? Tanya saya agak bingung sebab melihat keragu-raguannya.

“Eee.. nggak kok. Tante cuma mau nanya..” jawabnya dengan ragu-ragu lagi.

“Mas Rois di rumah lagi ngapain sekarang..?” tanya ia.

“Lagi nonton. Emangnya kenapa Tante..?” saya tanya ia lagi.

“Lagi nonton apa sih..?” tanya ia agak menyelidik.

“Lagi nonton BF Tante”, kata saya yang tak tahu dari mana tiba-tiba saya mendapat keberanian untuk bilang begitu.

“BF..? tanya ia agak kaget.

“Maksudnya Blue Film..?”

“Iya.. emangnya ada apa sih Tante? Kalo tak ada apa-apa saya mau nerusin nonton lagi nih..” kata saya dengan agak memaksa.

“Eee.. mau bantuin Tante nggak..? Soalnya Tante agak takut sendirian di rumah. Jika kau mau sambil nonton juga boleh kok. Bawa aja filmnya ke rumah, Tante juga punya beberapa film seperti itu. Nanti Tante temenin nontonnya deh”, kata ia agak merajuk.

“Iya deh Tante, saya pilihin dulu yang bagus”, kataku tanpa ba bi Bu langsung setuju dengan ajakannya.

Pucuk di cinta ulam tiba, sesuatu yang sangat saya impikan sejak lama untuk dapat berdua dengan Tante Niar. Hari ini saya akan berdua dengannya sambil menonton Film Biru dengan harapan dapat melihat keindahan ragawi seorang wanita yang saya puja-puja dari dulu dan bahkan (mungkin) merasakan kenikmatannya juga.

Singkat kata saya langsung memilah-milah video yang bagus-bagus (Maklum, waktu itu masih jamannya Betamax, belum VCD). Kemudian saya masuk rumah Tante Niar lewat pintu dapurnya. Saya setel lebih dulu video yang tadi saya tonton dan belum habis.

Beberapa menit kemudian Tante Niar masuk lewat pintu dapur juga dengan wangi tubuh yang segar, apalagi rambutnya juga kelihatan basah seperti habis keramas. Saya selidiki tiap sudut tubuhnya yang masih terbalut kimono tipis biru muda yang agak menerawang tersebut, sesampai dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya sebab ia tak memakai Bra.

Tanpa kusadari, di antara degupan jantungku yang terasa mulai keras dan kencang, kejantananku juga sudah mulai menegang. Dengan santai ia duduk tepat di sebelahku, dan ikut menonton film BF yang sedang berlangsung.

“Cakep-cakep juga yang main..” akhirnya ia memberi komentarnya.

“Dari kapan Mas Rois mulai nonton film beginian..? tanyanya.

“Udah dari dulu Tante..” kataku.

“Mainnya juga bagus dan tak kasar. Mas Rois udah tahu rasanya belum..? tanya ia lagi.

“Ya belum Tante. Tapi kata temen-temen sih enak. Emang kenapa Tante, mau ngajarin saya yah? Jika iya boleh juga sih”, kataku.

“Ah Mas Rois ini kok jadi nakal yah sekarang”, katanya sambil mencubit lenganku.

“Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kau tahu rasanya”, tambahnya dengan sambil melirik ke arahku dengan agak menantang.

Tak lama berselang, tiba-tiba Tante Niar menyenderkan kepalanya ke bahuku. Sesaat itu pula saya langsung kaget dan bingung sebab belum pernah sama sekali melakukan perbuatan itu. Tapi saya cuma dapat pasrah saja oleh perlakuannya.

Sebentar kemudian tangan Tante Niar sudah mulai mengusap-ngusap daerah tubuhku sekitar dada dan perut (sebab lagi-lagi saya tak memakai kaos dikala itu). Rangsangan yang ditimbulkan dari usapannya cukup membikin saya nervous sebab itu ialah kali pertama saya diperlakukan oleh seorang wanita, apalagi wanita tersebut tak lain ialah Tante Niar. Kejantananku sudah mulai semakin berdenyut-denyut siap bertempur.

Kemudian Tante Niar mulai menciumi leherku, lalu turun ke bawah sampai dadaku. Sampai di daerah dada, ia menjilat-jilat ujung dadaku, secara bergantian kanan dan kiri. Tangan kanan Tante Niar juga sudah mulai masuk ke dalam celanaku, dan mulai mengusap-usap kejantananku.

Sebab dalam situasi yang sudah sangat terangsang, saya mulai memberanikan diri untuk membuka kimono yang ia pakai. saya remas toketnya, dan saya pilin-pilin ujung dari toket yang berwarna kecoklatan dan sangat sensitif itu, terkadang saya juga mengusap ujung-ujung tersebut dengan ujung jariku. “Ssshh.. ya situ sayang..” katanya setengah berbisik. “Ssshh.. oohh..”

Tiba-tiba ia memaksa lepas celana pendekku, dan diusapnya kejantananku. Akhirnya bibir kami saling berpagutan dengan penuh nafsu yang sangat membara. Dan ia mulai menjulur-julurkan lidahnya di dalam mulutku.

Sambil berciuman tanganku mulai bergerilya ke bawah sampai pada permukaan celana dalamnya, yang rupanya sudah mulai menghangat dan agak lembab. saya melepaskan celana dalam Tante Niar, sesampai kami berdua menjadi telanjang bulat.

Kutempelkan jariku di ujung atas permukaan kemaluannya. ia kelihatan agak kaget saat merasakan jariku bermain di daerah seputar klitorisnya.

Lama kelamaan saya masukkan satu jariku, lalu jari kedua dan kemudian saya tambah satu jari lagi sesampai menjadi tiga ke dalam liang kemaluannya. “Aaahh.. sshh.. oohh.. terus sayang.. terus..” bisik Tante Niar.

Saat jariku terasa mengenai akhir lubangnya, tubuhnya terlihat agak bergetar. “Ya.. terus sayang.. terus.. aahh.. sshh.. oohh.. aahh.. terus.. sebentar lagi.. teruuss.. oohh.. aahh.. aarrgghh..” kata Tante Niar.

Sesaat itu pula ia memeluk tubuhku dengan sangat erat sambil menciumku dengan penuh nafsu. saya merasakan bahwa tubuhnya agak bergetar (yang kemudian baru saya tahu bahwa ia sedang mengalami orgasme).

Beberapa dikala tubuhnya mengejang-ngejang menggelepar dengan hebatnya. Yang iakhiri dengan terkulainya tubuh Tante Niar yang terlihat sangat lemas di sofa.

“Saya kapan Tante, kan saya belum..?” Rujukku.

“Nanti dulu yah sayang, sebentar.. beri Tante waktu untuk istirahat sebentar aja”, kata Tante Niar.

Tapi sebab sudah sangat terangsang, kuusap-usap bibir kemaluannya sampai mengenai klitorisnya, saya dekati toketnya yang menantang itu sambil kujilati ujungnya, sesekali kuremas toket yang satunya.

Sesampai rupanya Tante Niar juga tak tahan menerima paksaan rangsangan-rangsangan yang kulakukan terhadapnya. Sesampai sesekali terdengar bunyi erangan dan desisan dari mulutnya yang seksi.

Aku usap-usapkan kejantananku yang sudah sangat amat tegang di bibir kemaluannya sebelah atas. Sesampai kemudian dengan terpaksa ia membimbing batang kemaluanku menuju lubang kemaluannya. Pelan-pelan saya dorong kejantananku agar masuk semua.

Kepala kejantananku mulai menyentuh bibir kewanitaan Tante Niar. “Ssshh..” rasanya benar-benar tak dapat kubayangkan sebelumnya. Lalu Tante Niar mulai menyuruhku untuk memasukan kejantananku ke liang kewanitaannya lebih dalam dan pelan-pelan.

“Aaahh..” baru masuk kepalanya saja saya sudah tak tahan, lalu Tante Niar mulai menarik pantatku ke bawah, supaya batang kejantananku yang perkasa ini dapat masuk lebih dalam. Bagian dalam kewanitaannya sudah terasa agak licin dan basah, tapi masih agak seret, mungkin sebab sudah lama tak dipergunakan. Namun Tante Niar tetap memaksakannya masuk.

“Aaagghh..” rasanya memang benar-benar luar biasa walaupun kejantananku agak sedikit terasa ngilu, tapi nikmatnya luar biasa. Lalu terdengar bunyi erangan Tante Niar.

Lalu Tante Niar mulai menyuruhku untuk menggerakkan kemaluanku di dalam kewanitaannya, yang membuatku semakin gila. Ia sendiri pun mengerang-ngerang dan mendesah tak karuan. Beberapa menit kami begitu sampai suatu saat, seperti ada sesuatu yang membikin liang kewanitaannya bertambah licin, dan makin lama Tante Niar terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang membikin ia berteriak dan mengerang dengan sejadi-jadinya sebab tak kuasa menahannya.

Dan tiba-tiba kemaluanku terasa seperti disedot oleh liang kewanitaan Tante Niar, yang tiba-tiba dinding-dinding kewanitaannya terasa seperti menjepit dengan kuat sekali. Aduuh.. jika begini saya makin tak tahan dan.. “Aaarrgghh.. sayaang.. Tante keluar lagii..” jeritnya dengan keras, dan makin basahlah di dalam kewanitaan Tante Niar, tubuhnya mengejang kuat seperti kesetrum, ia benar-benar menggelinjang hebat, membikin gerakannya semakin tak karuan. Dan akhirnya Tante Niar terkulai lemas, tapi kejantananku masih tetap tertancap dengan mantap.

Aku mencoba membuatnya terangsang kembali sebab saya belum apa-apa. Tangan kananku meremas toketnya yang sebelah kanan, sambil sesekali kupilin-pilin ujungnya dan kuusap-usap dengan ujung jari telunjukku.

Sedang toket kirinya kuhisap sambil menyapu ujungnya dengan lidahku. Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang keluar dan terasa hambar dari ujung toketnya, yang ternyata susu. “Ssshh.. shh..” desahan Tante Niar sudah mulai terdengar lagi.

Aku memintanya untuk berganti posisi dengan doggy style. Awalnya ia menolak dengan alasan belum pernah bersetubuh dengan gaya itu, setelah saya beritahu alasanku, akhirnya ia mau juga dengan berpesan agar saya tak memasukkan air maniku ke dalam liang kewanitaannya.

Aku mencoba untuk menusukkan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya, pelan tapi pasti. Kepala Tante Niar agak menengok ke belakang dan matanya melihat mataku dengan sayu, sambil ia gigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang timbul.

Sedikit demi sedikit saya coba untuk menekannya lebih dalam. Kejantananku terlihat sudah tertelan semuanya di dalam kewanitaan Tante Niar, lalu saya mulai menggerakkan kejantananku perlahan-lahan sambil menggenggam buah pantatnya yang bulat. Dengan gaya seperti ini, desahan dan erangannya lebih keras, tak seperti gaya konvensional yang tadi.

Aku terus menggerakkan pinggulku dengan tangan kananku yang kini meremas toketnya, sedangkan tangan kiri kupergunakan untuk menarik rambutnya agar terlihat lebih merangsang dan seksi. “Ssshh.. aarrgghh.. oohh.. terus sayaang.. terus.. aarrgghh.. oohh..” Tante Niar terus mengerang.

Beberapa menit berlalu, kemudian Tante Niar merasa akan orgasme lagi sambil mengerang dengan sangat keras sesampai tubuhnya mengejang-ngejang dengan sangat hebat, dan tangannya mengenggam bantalan sofa dengan sangat erat.

Beberapa detik kemudian bagian depan tubuhnya jatuh terkulai lemas menempel pada sofa itu sambil lututnya terus menyangga pantatnya agar tetap di atas.

Dan saya merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut dan saya memberitahukan hal tersebut padanya, tapi ia tak menjawab sepatah kata pun. Yang keluar dari mulutnya cuma desahan dan erangan kecil, sesampai saya tak berhenti menggerakkan pinggulku terus.

Aku merasakan tubuhku agak mengejang seperti ada sesuatu yang tertahan, sepertinya semua tulang-tulangku akan lepas dari tubuhku, tanganku menggenggam buah pantat Tante Niar dengan erat, yang kemudian diikuti oleh keluarnya cairan maniku di dalam liang kewanitaan Tante Niar.

Mata Tante Niar terlihat agak terbelalak saat merasakan ada cairan yang memenuhi bagian dalam dari kewanitaannya. Sedikala kemudian saya ambruk di atas tubuhnya, tubuhku terasa sangat lemas sekali. Setelah kami berdua merasa agak tenang, saya melepaskan kejantananku dari liang nikmat milik Tante Niar.

Dengan agak malas Tante Niar membalikkan tubuhnya dan duduk di sampingku sambil menatap tajam mataku dengan mulut yang agak terbuka, sambil tangan kanannya menutupi permukaan kemaluannya.

“Kok dikeluarin di dalem sih Mas Rois..? tanyanya dengan bunyi yang agak bergetar.

“Tadi kan saya sudah bilang ke Tante, jika punya saya berdenyut-denyut, tapi Tante nggak ngejawab sama sekali..” kataku membela diri.

“Ya kan terasa jika sudah mau keluar..” katanya.

“Saya mana tahu rasanya jika mau keluar.. ini kan yang pertama buat saya. Jadi saya belum tahu rasanya..” jawabku.

“Terus entar jika jadi gimana?” katanya lagi.

“Nggaakk tahu Tante..” jawabku dengan bunyi yang agak terbata-bata sebab takut dengan resiko tersebut.

“Ya sudahlah.. tapi lain kali jika sudah kerasa kayak tadi itu langsung buru-buru dicabut dan dikeluarkan di luar ya..?” katanya menenangkan diriku yang terlihat takut.

“I.. iiya Tante..” jawabku sambil menunduk.

Lalu Tante Niar berdiri menghampiri video dan TV yang masih menyala, dan mematikannya. Kemudian tangannya dijulurkan, mengajakku pindah ke kamar untuk tidur. Akhirnya kami tertidur pulas sampai pagi sambil saling berdekapan dalam situasi polos tanpa sehelai benang pun.

Itulah awal dari perbuatan-perbuatan saya bersama Tante Niar. Selama hampir 2 tahun Tante Niar memberi saya banyak pelajaran dan kenikmatan yang sangat luar biasa. Terkadang jika Tante Niar sedang sangat menginginkannya, saya selalu siap melayaninya, kecuali jika keadaanku sedang tak fit atau sedang ada keperluan keluarga atau sekolah.

About admin

Check Also

Cerita Sex Pengalaman Pertama Ngentot STW

Sejak kecil hingga ke jenjang perkuliahan aku belum merasakan menyentuh bagian tubuh wanita kecuali ibuku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *