Home / Cerita Sex Sahabat / Cerita Sex Semakin Liar

Cerita Sex Semakin Liar

Aqila serta Anjar mempersiapkan jamuan makan elegan, sebab masakan yang dipesan dari satu diantara restoran mahal di bilangan Jakarta ini. Dengan kenakan celana panjang coklat tua serta kaos berleher berwar

Anjar kenakan celana panjang hitam serta hem biru muda bertangan pendek. Aqila kenakan gaun warna biru muda, seperti warna hem suaminya, agak ketat membungkus badannya yang seksi, gaun itu bergantung di pundaknya pada dua utas tali, hingga memerlihatkan beberapa payudaranya.

Rheva tidak gantinya seseorang putri, menggunakan gaun berwarna merah muda, ketat menghadirkan lekuk-lekuk badannya yang menggairahkan, dengan juga belahan dada agak rendah dengan potongan 1/2 lingkaran.

Keduanya seakan-akan menginginkan tunjukkan keindahan payudaranya di depanku serta Anjar untuk menyebutkan payudara siapa yang paling indah. Payudara ke-2 wanita itu memanglah tidaklah terlalu besar, namun cukup merangsang buatku.

Punya Aqila lebih kecil sedikit dari pada punya Rheva. Hal semacam itu telah kubuktikan sendiri saat coba melumat payudara keduanya. Payudara Rheva masihlah tersisa semakin banyak dari pada payudara Aqila, saat kuisap sebanyak mungkin kedalam mulutku. Kami berempat duduk di ruangan makan nikmati jamuan yang disiapkan tuan tempat tinggal.

Hidangan penutup serta buah-buahan fresh bikin kami begitu nikmati jamuan itu. Dari ruangan makan, kami beranjak ke ruangan keluarga. Aqila menyetel musik classic, sedang Anjar mengambil minuman untuk kami, ia menuangkan tequila buat Aqila serta Rheva, sedang untuk dia serta saya, semasing satu gelas anggur Prancis, agak keras kurasa alkoholnya.

Rona merah membayang di wajah mereka bertiga, serta kupikir demikian pula denganku, akibat dampak minuman yang kami teguk. Pembicaraan kami yang awal mulanya bebrapa enteng di sekitar kerja serta kuliah Rheva semakin berpindah pada beberapa hal erotis, terlebih saat Aqila lihat ke arahku serta berkata,

“Wah, dampak anggur Prancis telah bangunkan makhluk hidup di paha Agus. Saksikan tidak tuh Sin?

” Rheva menengok ke sisi bawah badanku serta memperbandingkan dengan Anjar, “Lho, yang satu ini juga telah mulai bangkit dari pendam, hi… hi…. hi…” Rheva yang duduk di dekatku menyenderkan kepalanya pada bahu kananku. Aqila mengajak suaminya berdiri serta berdansa ikuti irama lagu The Blue Danube-nya Strauss.

Tak tahu pernah pelatihan atau lantaran pernah diluar negeri, mereka berdua betul-betul pakar lakukan dansa. Sesudah lagu itu berlalu, terdengar alunan Liebestraum. Anjar melepas pelukannya pada pinggang Aqila serta mendekati Rheva

Lantas dengan style seseorang pangeran, memohon kesediaan Rheva menukar Aqila temaninya melantai, sesaat Aqila mendekatiku.Aku yang tak begitu pandai berdansa menolak dan menarik tangan Aqila agar duduk di sampingku memandang suaminya berdansa dengan keponakannya. Rupanya Rheva pun tidak jelek berdansa, meskipun tak sebagus Tantenya, ia mampu mengimbangi gerakan Anjar.

Saat alunan lagu begitu syahdu, mereka berdua saling merapatkan tubuh, sehingga dada Anjar menekan payudara Rheva. Di tengah-tengah alunan lagu, wajah Anjar mendekati telinga Rheva dan dengan bibirnya, ia mengelus-elus rambut di samping telinga Rheva dan dengan kedua bibirnya sesekali cuping telinga Rheva ia belai.

Tatapan Rheva semakin sayu mendapati dirinya dipeluk Anjar sambil dimesrai begitu. Lalu bibir Anjar turun ke dagu Rheva, menciumi lehernya. Kami dengar desahan Rheva keluar dari bibirnya yang separuh terbuka.

Lalu ia dengan masih berada pada pelukan Anjar di pinggangnya, mengarahkan ciuman pada bibir Anjar. Mereka berpagutan sambil berpelukan erat, kedua tangan Anjar melingkari pinggul Rheva, sedangkan kedua tangan Rheva memeluk leher Anjar.

Permainan lidah mereka pun turut mewarnai ciuman panas itu. Anjar lalu membuka gaun Rheva hingga terbuka dan melewati kedua pundaknya jatuh ke lantai. Kini Rheva hanya mengenakan kutang dan celana dalam berwarna merah muda.

Tangan Rheva ikut membalas gerakan Anjar dan membuka hemnya, kemudian kulihat jari-jarinya bergerak ke pinggang Anjar membukai ikat pinggang dan risleting celana Anjar. Maka terlepaslah celana Anjar, ia hanya tinggal memakai celana dalam.

Lalu jari-jari Rheva bergerak ke belakang tubuhnya, membuka tali kutangnya, hingga menyembullah keluar kedua payudaranya yang rheval. Keduanya masih saling berpelukan, melantai dengan terus berciuman.

Namun tangan keduanya tidak lagi tinggal diam, melainkan saling meraba, mengelus; bahkan tangan Anjar mulai mengelus-elus bagian depan celana dalam Rheva. Rheva mendesah mendapat perlakuan Anjar dan mengelus-elus penis Anjar dari luar celana dalamnya, lalu dengan suatu tarikan, ia melepaskan pembungkus penis tersebut sehingga penis Anjar terpampang jelas memperlihatkan kondisinya yang sudah terangsang.

Anjar mengarahkan penisnya ke vagina Rheva dan melakukan tekanan berulang-ulang hingga Rheva semakin liar menggeliatkan pinggulnya, apalagi ciuman Anjar pada payudaranya semakin ganas, dengan isapan, remasan tangan dan pilinan lidahnya pada putingnya.

Rheva terduduk ke karpet diikuti oleh Anjar yang kemudian meraih tubuh Rheva dan membaringkannya di sofa panjang.

Dengan jari-jari membuka celah-celah celana dalam Rheva, mulutnya kemudian menciumi vagina Rheva. Erangan Rheva semakin meninggi berganti dengan rintihan. “Dick, ayo sayang ….. ooooohhhh …. Yahhh, gitu sayang, adddduhhhh … nikmat sekali ….. aaakkkhhhh …. ” Setelah beberapa saat mengerjai vagina Rheva.

Anjar berlutut dekat Rheva dengan kaki kanan bertelekan di lantai, sedangkan kaki kirinya naik ke atas sofa, ia arahkan penisnya ke vagina Rheva dari celah-celah celana dalam Rheva.

Lalu perlahan-lahan ia masukkan penisnya ke vagina Rheva dan mulai melakukan tekanan, maju mundur, sehingga penisnya masuk keluar vagina Rheva. Aqila yang duduk di sebelah kiriku terangsang melihat Anjar dan Rheva, lalu mencium bibirku.

Kubalas ciumannya dengan tak kalah hebat sambil mengusap-usap punggungnya yang terbuka. Aqila memegangi kedua rahangku sambil menciumi seluruh wajahku, lidahnya bermain di sana-sini, membuat birahiku semakin naik, apalagi ketika lidahnya turun ke leherku dan dibantu tangannya berusaha membuka kaosku. Kuhentikan gerakannya meskipun ia membantah, “Ayo dong Gus?”

“Tenang sayang …. ” kucium bibirnya sambil menunduk dan dengan tangan kiri menahan lehernya, tangan kananku mengangkat kakinya hingga ia jatuh ke dalam boponganku dan kugendong menuju kamar tidur mereka. Kami tak pedulikan lagi Anjar dan Rheva yang semakin jauh saling merangsang. Kurebahkan tubuhnya di ranjang dan kubuka seluruh pakaianku.

“Cepet banget Gus, udah sampai ke ubun-ubun ya sayang?” tanya menggoda sambil berbaring.

“Udah berapa minggu nich, kangen pada tubuhmu …” jawabku sambil mendekati dirinya. Kembali kulabuhkan ciuman pada bibirnya sambil jari-jariku mengelus pundaknya yang terbuka sambil membukai kedua tali di pundaknya.

Lidahku mencari payudaranya dan mengisap putingnya. Isapan mulutku pada putingnya membuat Aqila mengerang dan menggelinjang, apalagi ketika sesekali kugigit lembut daging payudaranya dan putingnya yang indah, yang sudah tegang.

Mungkin karena pengaruh minuman keras dan tontonan yang disajikan Rheva dan Anjar barusan, kami berdua pun semakin liar saling mencium tubuh yang lain satu sama lain. Pakaian kami sudah terlempar kesana kemari.

Ciuman bibir, elusan jari-jari dan bibir, remasan tangan, jilatan lidah menyertai erangan Aqila dan aku. Kami berdua seolah-olah berlomba untuk saling memberikan kepuasan kepada yang lain. Apalagi ketika Aqila menindih tubuhku dari atas dengan posisi kepala tepat pada pahaku dan mengerjai penisku dengan ganasnya.

Vaginanya yang tepat ada di atas wajahku kuciumi dan kujilati, klitorisnya kukait dengan lidah dan kugunakan bibirku untuk mengisap klitoris yang semakin tegang itu. Setelah tak tahan lagi, Aqila segera bangkit lalu menungging di depanku. Rupanya ia mau minta aku melakukan doggy style posisi yang sangat ia sukai. Dari ruang keluarga, kudengar rintihan Rheva dan erangan Anjar.

Mungkin mereka sudah semakin hebat melakukan persetubuhan. Kuarahkan penisku ke vagina Aqila. Kugesek-gesekkan kepala penis hingga ia kembali merintih, “Guuussss, jangan permainkan aku! Ayo masukin dong, aku nggak tahan lagi, sayaaaanngg!” pintanya. Penisku mulai masuk sedikit demi sedikit ke dalam vaginanya.

Kupegang pinggulnya dan memaju-mundurkan tubuhnya mengikuti alunan penis masuk keluar vaginanya. Sekitar lima menit kulakukan gerakan begitu, ia belum juga orgasme, begitu pula aku. Kemudian kuraba kedua payudaranya yang menggantung indah dari belakang. Kuremas-remas sambil merapatkan dadaku ke punggungnya. Ia mengerang, mendesah dan merintih.

“Ahhhh ….. sshsshh, ouuughhhh, nikmatnyaaaa …… sayangkuuuuu. ….” Mendengar suaranya dan merasakan geliat tubuhnya di bawah tubuhku, membuatku makin terangsang. Lalu kutarik kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Kupegang lengannya dengan sentakan kuat ke arah tubuhku hingga ia mendongakkan kepalanya.

Kedua tangannya berusaha menggapai payudaranya dan meremas-remas payudaranya sendiri. Kami berdua kini dalam posisi bertelekan pada lutut masing-masing, agak berlutut, ia tidak lagi menungging, penisku membenam dalam-dalam ke vaginanya.

Rintihan Aqila semakin tinggi dan saat kuhentakkan beberapa kali penisku ke dalam vaginanya, ia menjerit,

“Aaaaahhhhhh ….. oooooggghhh …..” Penisku terasa diguyur cairan di dalam. Aku tak kuat lagi menahan nafsuku dan menyusul dirinya mencapai puncak kenikmatan. Ia lalu menelungkup dengan aku menindih punggungnya yang sesekali masih memaju-mundurkan penisku di dalam vaginanya.

Keringat bercucuran di tubuh kami, meskipun pendingan kamar itu cukup dingin ketika kami baru masuk tadi. Kemudian kami berbaring berpelukan, aku menelentang sedangkan Aqila merebahkan tubuhnya di atasku. Di ruang sana tak terdengar lagi suara Anjar dan Rheva, mungkin mereka juga sudah orgasme.

Tanpa sadar, aku tertidur, juga Aqila. Aku terjaga ketika merasakan ciuman pada bibirku. Kubalas ciuman itu, tetapi aromanya berbeda dengan mulut Aqila. Kubuka kelopak mataku, kulihat Rheva masih telanjang membungkuk di atas tubuhku sambil menciumi aku.

Mataku terbuka lebar sambil memagut bibirnya memainkan lidahku di dalam mulutnya, ia membalas perlakuanku hingga lidah kami saling berkaitan. Sedangkan Anjar kulihat mendekati Aqila dan menciumi payudara istrinya. Aqila menggeliat dan membalas ciuman dan pelukan suaminya.

Tangannya mengarah ke bagian bawah tubuh Anjar meraih penis suaminya yang sudah melembek. Ia rabai dan kocok penis itu, hingga kuperhatikan mulai bangun kembali. Rheva yang semula hanya menciumi bibirku dan memainkan lidahnya, menurunkan ciumannya dan mencari dadaku, di sana putingku diciumi dan digigitnya lembut.

Lama-lama gigitannya berubah semakin buas, hingga membuatku merintih sakit bercampur nikmat, “Kenapa, sayang? Sakit ya?” tanyanya menghentikan permainannya sambil menatapku. Aku menggelengkan kepala dan memegang kepalanya agar kembali meneruskan ulahnya.

Lidahnya kembali terjulur dan bermain di putingku bergantian kiri dan kanan. Setelah itu, ia turunkan ciumannya ke penisku yang masih ada sisa-sisa sperma dan cairan vagina Aqila. Ia lumat dan masukkan penisku ke dalam mulutnya.

Penis yang sudah lembek itu kembali tegang mendapat perlakuan mulutnya. Tangannya memegang pangkal penisku melakukan gerakan mengocok.

Bibirnya dan lidahnya juga bermain di testisku dan “Uuuuhhhh ….” aku mendesah, sebab kini lidahnya menjilati analku tanpa rasa jijik sedikit pun.

Setelah itu kembali mulutnya bermain di testisku dan memasukkan kedua testis itu bergantian ke dalam mulutnya. Sedotan mulutnya membuat birahiku kembali muncul. Sementara rintihan Aqila kembali terdengar.

Kuintip mereka, Anjar kini menciumi paha istrinya, sama seperti perbuatan Rheva padaku. Rheva melihat penisku makin tegang, tetapi kemudian ia melangkah ke bufet kecil di samping ranjang. Tak lama kemudian ia kembali ke ranjang sambil memegang dildo berwarna merah di tangannya.

Penis buatan itu memiliki tali yang kemudian ia ikatkan ke pinggangnya sehingga kini Rheva terlihat seperti seorang laki-laki, tetapi memiliki payudara. Anjar masih terus menciumi paha isterinya ketika Rheva memegang rambut Anjar dan meminta Anjar menciumi payudara isterinya, sedangkan penis buatan sudah ia arahkan ke vagina Aqila.

Anjar menoleh sekilas ke arah Rheva, tetapi ia tidak menolak dan meremas-remas payudara istrinya sambil menciumi dan memilin putingnya.

Desahan Aqila semakin kuat disertai geliat tubuhnya, apalagi saat dildo Rheva mulai memasuki vaginanya yang kembali basah. Rheva kemudian memaju-mundurkan tubuhnya hingga dildo itu masuk keluar vagina Aqila.

Aqila mengerang dan meracau dengan tatapan mata sayu. Kudekati wajahnya dan kupagut bibirnya sambil turut membelai payudaranya membantu suaminya yang masih terus meremas dan menciumi payudaranya. Beberapa saat dengan posisi itu, membuat Aqila kembali naik birahi.

Rheva kemudian membalikkan tubuhnya ke samping sambil memegangi pinggang Aqila agar mengikuti gerakannya. Aku membantu gerakannya dan menggeser tubuh Aqila hingga kini berada di atas tubuh Rheva dengan dildo Rheva yang tetap menancap pada vagina Aqila.

Aqila yang ada di atas Rheva kini, menduduki perut Rheva sambil melakukan gerakan seakan-akan sedang menunggang kuda. Desahan Aqila semakin kuat sebab dildo itu benar-benar masuk hingga pangkalnya ke dalam vaginanya. Rheva tidak banyak bergerak, hanya pasif, tetapi jari-jarinya bermain di sela-sela vagina Aqila merangsang klitoris Aqila.

Aku memeluk Aqila dari belakang punggungnya, sedangkan Anjar dari arah depan tubuh Aqila meremas-remas dan sesekali menciumi dan menjilati payudara Aqila. “Gus, masih ada lubangku yang nganggur, ayo sayangg….. oooohhhh, nikmatnya” desahnya memohon. Aku menyorong tubuh Aqila agar rebah di atas tubuh Rheva, lalu kusentuh lubang analnya.

Kubasahi dengan sedikit ludah bercampur cairan vaginanya sendiri. Lalu setelah cukup pelumas, kumasukkan penisku ke dalam analnya. Kugerakkan penisku maju mundur, sedangkan Aqila dan Rheva saling berciuman, dan Anjar meremas-remas payudara kedua perempuan itu bergantian. Rintihan kedua perempuan itu semakin kuat terdengar.

Mungkin karena merasa tindihan dua tubuh di atasnya agak berat, Rheva agak megap-megap kulihat, sehingga kuajak mereka berdua melakukan gerakan ke samping.

Aku kini berbaring terlentang. Penisku yang tegang dipegangi tangan Aqila dan diarahkannya masuk ke dalam analnya sambil merebahkan tubuhnya terlentang di atasku.

Lalu Rheva kembali berada di atas tubuh Aqila memasukkan dildo pada pangkal pahanya ke dalam vagina Aqila. Gerakan Rheva kini aktif, berganti dengan aku yang pasif pada anal Aqila. Tak lama kemudian Aqila orgasme disertai rintihan panjangnya.

Kupeluk ia dari bawah, sedangkan bibirnya diciumi oleh Rheva dengan ganasnya. Anjar masih terus meremas-remas payudara kedua perempuan itu. Lalu Rheva mencabut penis buatan dari vagina Aqila dan berbaring di sampingku, sementara Anjar meletakkan tubuhnya di samping Rheva sambil memeluk tubuh Rheva dan mencium bibirnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Aqila bangun dari atas tubuhku dan membuka tali yang mengikat dildo pada pinggang Rheva. Diperlakukan seperti tadi, rupanya membuat Aqila juga ingin mencoba apa yang dilakukan oleh Rheva terhadap dirinya.

“Mas, Gus, pegangi tangan dan kaki Rheva. Yuk buruan, jangan berikan kesempatan buat dia!” katanya memerintah kami berdua.

Rheva yang masih kecapekan karena mengerjai Aqila tadi mencoba meronta-ronta ketika tanganku memegangi kedua tangannya dan mementangkan lebar-lebar, sedangkan Anjar memegangi kedua telapak kakinya sehingga kedua paha dan kakinya terpentang lebar.

“Ah, Tante curang, masak pake pasukan mengeroyok ponakannya …” katanya protes.

“Biarin, abis ponakan nakal kayak gini. Masak Tantenya dihabisi kayak tadi?” gurau Aqila sambil berlutut di antara kedua paha Rheva. Ia lalu menundukkan wajahnya menciumi dan menjilati vagina Rheva. Rheva benar-benar tidak bisa berkutik, meskipun ia menggeliat-geliat, apalah artinya, sebab tangan dan kakinya dipegangi oleh dua lelaki dengan kuatnya.

Puas menciumi vagina Rheva, Aqila mengangkangkan pahanya di luar paha Rheva, lalu menujukan dildo pada pahanya ke dalam vagina Rheva. Setelah dildo tersebut masuk, kedua pahanya bergerak ke arah dalam ke bawah kedua paha Rheva, sehingga kedua paha Rheva semakin rapat mengunci dildo yang sudah masuk dengan mantap ke dalam vaginanya.

Sedangkan di bawah, kedua tungkainya mengunci kedua tungkai Rheva. Kini tanpa dipegangi oleh tangan Anjar pun, kaki Aqila sudah mengunci paha dan kaki Rheva dengan ketatnya. Mulut Aqila mengarah pada payudara Rheva dan melumat habis kedua payudara keponakannya.

Sedangkan aku, sambil mementangkan kedua tangan Rheva, mencium bibirnya dan memasukkan lidahku ke dalam mulutnya.

Sesekali kuangkat wajahku dan berciuman dengan Aqila. Erangan Rheva yang tak menduga serangan Tantenya semakin dahsyat, terdengar semakin berubah menjadi rintihan. Apalagi Tantenya semakin cepat menggerakkan dildo ke dalam vaginanya.

Beberapa kali ia malah menghentakkan dalam-dalam dildo tersebut ke vagina Rheva. Mungkin karena sudah sering melihat bagaimana gerakan penis suaminya atau penisku masuk keluar vaginanya, ia pun tergoda untuk melakukan aksi serupa. Cuma sekitar lima menit diserang begitu, Rheva tak kuasa lagi bertahan, ia merintih lirih,

“Tante Annnnaaaaa, aku dapet ….. aaahhhhhh …… nikmattt …… sssshhhhh .…… ooouuugghhh ….. aaaakkkhhh.” Aqila masih terus merojok vagina Rheva, hingga Rheva memaksaku melepaskan kedua tangannya dan menolakkan tubuh Tantenya, “Tante, udah dong, bisa pecah ntar memiawku!! Ahhh … sadis deh Tante!!” katanya.

Kami tertawa mendengar kalimatnya, sebab tahu mana mungkin pecah vaginanya dengan alat yang mirip penisku dan penis Anjar. Aqila merebahkan tubuh di samping Rheva seraya mencium bibir Rheva dengan lembut.

Keduanya berciuman agak lama dan kembali berbaring terlentang berdampingan. Aku dan Anjar mengambil tempat di samping mereka berdua.

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *